Sebelum (benar-benar) bergerak

JEJAK MASA LALU

         Pada tahun 1987 bapak saya di mutasi ke daerah Utara Sampang di kecamatan Sokobanah, tepatnya di SD Negeri III Bira Tengah sebagai Kepala Sekolah namun saya tidak sekolah di tempat bapak saya bertugas melainkan sekolah di SD Negeri Bira Tengah II langsung kelas 3, karena sebelum mutasi ke Sokobanah, kelas 1 hingga kelas 2 saya sekolah di SDN Pangarengan 1 kecamatan Torjun. Setelah lulus SD saya melanjutkan ke SMPN 1 Sokobanah. Setelah menimba ilmu selama tiga tahun saya lulus lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Ketapang. Lulus SMA saya kuliah di UNIBANG (Sekarang berganti nama Universitas Trunojoyo- Madura) mengambil jurusan Ekonomi. setelah selesai kuliah, saya bekerja sebagai guru honorer di SMP Negeri 1 Sokobanah, dan juga mengabdi di MTs. Darussalam Al-Faisholiyah Kec. Ketapang Sampang, MA. Darussalam Al-Faisholiyah Kec. Ketapang Sampang pada tahun 2003 hingga 2007.

         Alhamdulillah di terima Pegawai Negeri Sipil (PNS), pada tahun 2008 langsung di tempatkan di UPTD SMP Negeri 3 Torjun. Sebuah sekolah yang berada di daerah bukit tepatnya di Desa Tanah Merah kecamatan Torjun. Pada pertengahan tahun 2020, saya mengajukan mutasi sebagai pengganti guru yang purna tugas di UPTD SMP Negeri 1 Sampang, akhir tahun 2020 SK Mutasi saya turun. Tepat di hari Senin tanggal 18 Januari 2021 (bersamaan dengan hari ulang tahun), saya mulai mengajar di UPTD SMP Negeri 1 Sampang hingga sekarang dan mulai tahun 2023 ini kembali mengabdi sebagai dosen di STKIP PGRI Sampang setelah cuti dari tahun 2017 sampai tahun 2022 karena selama cuti  saya  melanjutkan pendidikan ke pascasarjana (S2) Universitas PGRI adi Buana Surabaya agar lebih fokus dan kebetulan saya hamil anak ketiga. Berbicara tentang pengabdian tentu ada pengalaman berharga dan ilmu baru yang bermanfaat saya dapatkan.

         Pengalaman saya selama menjadi guru di UPTD SMP Negeri 3 Torjun, saya dipercaya menjadi wakil kepala sekolah selama 10 tahun (sejak tahun 2008 hingga 2018), Selain sebagai wakil kepala sekolah saya juga di beri tugas tambahan sebagai bendahara gaji selama 12 tahun (2008-2020), saya tidak paham dan bertanya-tanya “mengapa sampai selama itu saya tidak diganti?”. Saat ini saya mengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila (PP) kurikulum merdeka kelas VII dan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kelas IX kurikulum 2013, Selain mengajar saya diberi kepercayaan untuk menjadi wali kelas mulai tahun 2021 semester genap hingga buku ini ditulis, diberi tugas tambahan pula menjadi bendahara pengurus barang mulai 2022. Saya juga dipercaya menjadi bendahara PGRI Ranting UPTD SMP Negeri 1 Sampang periode 2021-2025. Selain hal tersebut di atas saya juga di beri amanah sebagai pembina OSIS Sek. Bidang VII (tujuh) yang berhubungan dengan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Saya juga diberi kepercayaan sebagai Bendahara II Koperasi Aneka Usaha UPTD SMP Negeri 1 Sampang. Saya juga aktif dalam kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Muridan) PPKn Kabupaten Sampang. MGMP merupakan adalah suatu wadah yang strategis untuk meningkatkan kompetensi guru dan murid dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan secara umum, jadi menurut saya rugi jika sebagai guru tidak mau bergabung MGMP karena manfaatnya sangat luar biasa di antaranya memperluas wawasan dan pengetahuan guru dalam berbagai hal, khususnya penguasaan substansi materi pembelajaran, penyusunan silabus, penyusunan bahan-bahan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, memaksimalkan pemakaian sarana/prasarana belajar serta bagaimana memanfaatkan sumber belajar. Saat ini saya di percaya menjadi sekretaris MGMP PPKn Kabupaten Sampang masa bakti tahun 2021-2025.  Bersyukur sekali dengan segala kesibukan yang ada, keluarga senantiasa memberikan dukungan.

 

MENGUMPULKAN PUING SEMANGAT MENUJU HALAMAN GURU PENGGERAK

         Salah satu bentuk dukungan suami adalah beliau menyetujui dan sepakat tanpa syarat saat saya untuk mendaftar Program Pendidikan Guru Penggerak. Mengetahui informasi tentang Program Pendidikan Guru Penggerak, sejak awal tahun 2021 saat dipanggil kepala sekolah untuk membahas wisata belajar murid - siswi UPTD SMP Negeri 1 Sampang ke pendopo Kabupaten Sampang dan melakukan audiensi dengan bapak bupati beserta wakil bupati. Saya jawab “siap” walau pada saat itu saya kurang paham apa itu guru penggerak. Pulang sekolah saya penasaran dengan apa yang di sampaikan kepala sekolah terkait program guru penggerak ini. Saya buka laptop dan mulai mencari informasi tentang apa dan bagaimana serta manfaat dari program guru penggerak ini untuk pendidikan dimasa yang akan datang. Bahkan saya bergabung dengan komunitas guru penggerak di Facebook. Jika melihat postingan cerita dan pengalaman guru penggerak yang pernah ikut, kegiatannya padat dan tugasnya juga banyak. Rasanya kalah sebelum berperang.

         Akhir tahun 2021 ada pesan yang di teruskan berkali di grup WA baik di grup sekolah maupun grup MGMP, bahwa pendaftaran Program Pendidikan Guru Penggerak akan segera dibuka. Hati ini mulai gelisah antara takut, khawatir dan tidak percaya diri karena saya merasa tidak mempunyai kelebihan. Saya guru desa yang biasa-biasa saja. Walau demikian saya semangat dan ingin terus belajar serta berkarya apalagi UPTD SMP Negeri 1 Sampang merupakan sekolah center di Kabupaten Sampang. Saya merasa terlalu lama berada di Zona nyaman saat masih mengabdi di UPTD SMP Negeri 3 Torjun. Saya harus bangun dan saya harus berlari untuk mengejar ketertinggalan ini. Saya segera berusaha dan belajar memantaskan diri serta beradaptasi dengan lingkungan dan suasana yang sangat jauh berbeda.

         Saya katakan berbeda karena dilihat dari jumlah murid, sarana dan prasarana yang tersedia, latar belakang sosial, pendidikan dan ekonomi wali murid (bukan bermaksud membedakan, tapi fakta menunjukkan demikian). Terbersit kesedihan di hati saya, betapa saya tidak ada apa-apanya, selama ini saya ke mana, saya terlalu lama tidur, saatnya saya bangun dari mimpi. Saya ingin memberikan yang terbaik khususnya di bidang pendidikan. Hal inilah yang memotivasi saya mendaftar menjadi Guru Penggerak karena saya ingin mengembangkan dan meningkatkan kompetensi yang ada dalam diri saya yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan saja namun mampu memberi contoh sikap dan perilaku yang mencerminkan pribadi Pancasila, dan memiliki keterampilan yang cakap khususnya dalam bidang pendidikan sehingga saya bisa dan mampu untuk memberikan pelayanan terbaik buat anak-anak generasi penerus bangsa demi tercapainya tujuan nasional atau cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tepatnya di alinea ke -IV dan tujuan nasional tersebut bisa tercapai salah satunya melalui proses pendidikan.

 

MEMBANGUN ASA DI KAWAH CANDRADIMUKA “PGP”

         Bermodal nekat dan niat yang kuat, saya memberanikan diri dan membangun puing-puing semangat untuk mendaftar dan melengkapi berkas yang harus di unggah. Awalnya saya mengisi data pribadi, lalu membuat surat rekomendasi dari kepala sekolah dan dari teman sejawat. Masih teringat jelas di ingatan saat menulis essay saya dalam kondisi sakit (terpapar virus covid-19), merupakan tantangan buat saya karena jawaban essay di tentukan jumlah kata-katanya, secara saya kurang cakap dalam menulis, untungnya pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang berhubungan dengan pengalaman pribadi. Dan akhirnya selesai juga saya dan saya unggah semua yang menjadi syarat di H-1. Saat dalam masa penantian pengumuman penerimaan CGP (Calon Guru Penggerak), saya mendengar kabar bahwa saat menulis essay di LMS harus ditulis langsung tidak boleh copypaste walaupun dari hasil tulisan saya sendiri (plagiarisme). Seketika langsung pesimis dan hati mulai berbicara sendiri “saya pasti tidak lolos ini”. entah mendengar kabar ini saya harus sedih atau bahkan harus senang, yang jelas saya sudah berusaha semaksimal mungkin, hasil akhir saya pasrahkan pada Allah SWT.  

         Benar kata pepatah bahwa usaha memang tidak pernah berkhianat pada hasil, pengumuman tahap pertama, alhamdulillah, saya dinyatakan lolos dan informasi dari SIMPKB, keluar jadwal saya untuk ujian mengajar. Saat itu RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) harus unggah di LMS, kemudian RPP tersebut saya gunakan saat ujian simulasi mengajar. Jujur walau sudah belasan tahun mengajar, rasanya masih canggung dan demam panggung. Benar-benar saya seperti guru yang baru belajar mengajar. Saya terus mengadakan latihan di depan kaca. Karena waktu yang di perlukan saat simulasi hanya 10 menit dengan ketentuan, kegiatan pendahuluan dua menit, kegiatan inti enam menit, kegiatan penutup selama dua menit.

         Jika mengingatnya saya suka senyum sendiri, sebelum ujian mengajar, saya latihan sendiri menjelang tidur sambil tiduran pula untuk memastikan bahwa pada saat simulasi nanti, waktu yang tersedia bisa dialokasikan dengan maksimal, terkadang menitnya berjalan saya tertidur, saat bangun waktu rekaman tertera tiga puluh delapan menit. Banyak tidurnya daripada latihannya. Pernah suatu ketika saya latihan “ngoceh” sambil cuci piring, tiba-tiba anak saya bilang dari belakang “ibuk itu kenapa, kok ngomong sendiri” dan saya pun hanya tertawa dan bergumam “naaak...ibukmu mau ujian niiiii....”. Dua hari menjelang simulasi, kami Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 6 melakukan latihan di sekolah diruang aula mini sekaligus cek laptop, audio, media pembelajaran dan persiapan lainnya. Kebetulan di UPTD SMP Negeri 1 Sampang ada 3 (tiga) orang yang lolos yaitu bapak Yas Wahyudi Hadi Prayitno, ibu Wahidah dan saya sendiri. Alhamdulillah, kami bertiga saling support dan saling melengkapi. Sangat bersyukur karena selalu dipertemukan dengan orang yang penuh ide, pintar dan luar biasa baiknya.   

         Pada saat ujian mengajar saya mengambil materi keberagaman dalam masyarakat Indonesia, saya menggunakan media gambar saat itu kemudian saya peragakan di depan dua tim penguji dengan menggunakan aplikasi geogle meet. Alhasil ujian mengajar berjalan lancar dan sesuai harapan. Tinggal menunggu ujian tahap akhir yaitu wawancara. Untuk mengetahui kapan jadwal tes wawancara, Saya harus rajin mengecek  SIMPKB, karena jadwal tes wawancara masing-masing peserta berbeda. Pada saat wawancara saya berusaha menjawab semua pertanyaan dengan sebenar benarnya sesuai dengan pengalaman yang saya alami. Wawancara tidak terasa berjalan kurang lebih 90 (sembilan puluh) menit di tanya oleh dua tim penguji, mengalir apa adanya sehingga wawancara berasa podcast, dan perasaan agak lebih tenang dan lebih siap akan hasil dari pengumuman tahap akhir.  

         Sungguh di luar dugaan saya, bisa lolos calon guru penggerak. Ini merupakan kejutan yang luar biasa bagi saya. Perasaan saya campur aduk, di satu sisi sangat bahagia dan bersyukur sekali bisa mendapat kesempatan untuk belajar, bertemu dengan komunitas guru yang hebat, serta mendapat pengalaman yang luar biasa, namun di sisi yang lain saya merasa sangat tidak percaya diri, kemampuan IT saya rendah dan bertambah khawatir melihat jadwal program pendidikan guru penggerak ini. Muncul rasa ragu apakah saya mampu mengikuti kegiatan ini hingga selesai, mampukah saya menyelesaikan dan memenuhi semua tugas yang di berikan nanti.  Namun saya tetap optimis dan tetap semangat sembari berdoa semoga diberi kekuatan, kelancaran dan ilmu yang bermanfaat. Berkat dorongan dan dukungan dari Kepala Sekolah, keluarga, rekan kerja serta para sahabat tercinta membangkitkan adrenalin dan  semangat untuk terus maju. Saya harus pandai membagi waktu selama mengikuti PGP supaya tidak mengganggu tugas saya baik di sekolah maupun di rumah.

          Alhamdulillah, akhirnya kegiatan PGP di awali setelah pembukaan Pendidikan CGP oleh Mendikbudristek pada tanggal 24 Agustus 2022 secara daring. Kegiatan pembelajaran secara daring melalui LMS diawali dengan pretest pada tanggal 29 Agustus 2022. Lokakarya orientasi perdana dilaksanakan secara daring tanggal 3 September 2022. Para peserta CGP bersama Guru Pengajar Praktik dan Fasilitator membersamai kami dalam kegiatan yang sangat kooperatif dan menyenangkan sehingga peserta tidak merasa bosan. Banyak kegiatan positif yang dilakukan seperti membuat kesepakatan kelas, mempresentasikan harapan dan kekhawatiran menjadi CGP.

         Pada minggu pertama saya merasa kebingungan bahkan tidak mempunyai bayangan tentang bagaimana nanti saya melangkah dan apakah saya mampu untuk melaksanakan semua proses CGP dan menyelesaikan tugas-tugas di LMS. Namun seiring berjalannya waktu dengan dipandu oleh Fasilitator, Pengajar Praktik dan Calon Guru Penggerak yang lain dengan begitu sabar membersamai dalam setiap kesempatan, saya bisa menjalani kegiatan PGP ini dengan semangat dan enjoy. Bahagia karena berasa mempunyai keluarga dan saudara baru yang luar biasa sayangnya, carenya dan baik hati.  Jika sudah menyelesaikan paket modul pertama maka akan diberikan ujian postest. Masuk pada modul berikutnya selalu di awali dengan pretest lagi. Menurut saya modul-modul yang ditampilkan dalam pogram guru penggerak ini sangat sistematis. Kami para CGP belajar mandiri dengan menggunakan alur MERDEKA yang terdiri dari Mulai dari diri, Eksplorasi Konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Ruang Elaborasi, Koneksi antar Materi, sampai pada Aksi nyata. Dengan menggunakan alur merdeka membuat pembelajaran menjadi sistematis, jelas dan sangat mudah untuk dipahami, semuanya merupakan hal baru yang sangat luar biasa.

         Belajar mandiri melalui LMS dan g-meet dengan menggunakan alur MERDEKA dalam pelaksanaan pendidikan guru penggerak ini menjadi kegiatan rutin namun saya sudah mulai bersahabat dengan keadaan, merasa lebih enjoy karena Pengajar Praktik dan Fasilitator selalu mengingatkan serta menuntun kami agar mampu menyelesaikan tugas tepat waktu karena kami adalah “pejuang centang biru”. Mempunyai label pejuang centang biru karena memang ada perjuangan untuk mendapatkan centang biru. Teringat suatu peristiwa saat ada zoom di kegiatan ruang kolaborasi (RUKOL), merasakan panik luar biasa. Masalah yang terjadi karena baterai laptop dan baterai HP tinggal sedikit. Saya tidak tahu kalau di rumah sedang mati lampu. Akhirnya saya telepon bu Wahidah dan mengutarakan niat mengikuti zoom di rumah beliau. Ternyata apa yang terjadi, sesampai di rumah bu Wahidah, mati lampu juga. Tidak mau patah semangat, saya tetap ikut RuKol (ruang kolaborasi) menggunakan laptop walau dengan baterai yang mau habis. Sebelumnya saya minta maaf dan mohon ijin pada fasilitator dan pengajar praktik jika dalam pelaksanaan rukol tiba- tiba keluar dari ruang rapat karena terkendala faktor x atau gangguan teknis. Akhirnya saya bisa menuntaskan pelaksanaan rukol dengan menggunakan laptop dan HP secara bergantian.

         Dan masih banyak pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan di antaranya saat pak Saiful selaku Pengajar Praktik dan teman Calon Guru Penggerak yang lain, antara lain : Pak Rasy, bu Nine, bu Yuni, Bu Yeri, Bu Yuli, Bu Ida, Bu Wahidah dan saya sendiri bertemu secara langsung setelah sekian lama berkomunikasi melalui zoom. Kami sepakat copydarat dan bertemu di warung kopi saya. Kami makan bersama, ngeteh, ngopi, tertawa, menumpahkan semua perasaan masing-masing, membahas, mengevaluasi dan berbagi pengalaman selama kegiatan Pendidikan Calon Guru Penggerak. Waktu berlalu, malam makin larut dan sebelum pulang, biasalah para emak jika sudah bertemu jika belum ada foto session rasanya kurang afdol, kurang asyik. Kita berfoto-foto ria. Dan terakhir mendengar cerita jika teman saya bu Ida, karena pulang terlalu malam sampai tidak di sapa oleh suaminya.

         Singkat cerita, tepatnya pada hari Minggu tanggal 30 Oktober 2022, kami CGP angkatan 6 Kabupaten Sampang melaksanakan lokakarya pertama. Pada lokakarya yang pertama kami memperkenalkan diri dan menyebutkan sekolah tempat kami mengajar, mengajar mata muridan apa dan alamat rumah dimana. Pelaksanaan Lokakarya pertama di bagi menjadi 3 (tiga) lokasi, yaitu di SMAN 1 Sampang, SMAN 2 Sampang dan SDN Dalpenang 1 Sampang. Kebetulan lokakarya pertama, saya di tempatkan di SDN Dalpenang 1 Sampang. Perasaan seru, senang, gembira dan lucu mengikuti kegiatan lokakarya 1 ini karena dikemas dengan konsep belajar sambil bermain, serius tapi santai, sehingga walau kegiatan ini berlangsung dari jam 07.00 WIB hingga 15.30 benar – benar tidak terasa.

         Benar yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa belajar dan bermain bagian dari kodrat anak. Guru sebagai motivator dan fasilitator bagi anak, anak mempunyai hak untuk mendapatkan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Karena pada hakikatnya belajar sambil bermain sangat mengasyikkan dan bisa melahirkan energi positif bagi seorang anak. Di Lokakarya pertama ini para Guru Pengajar Praktik sangat baik, sangat mengerti kami Calon Guru Penggerak, sehingga kolaborasi tercipta dengan baik dan suasana lokakarya berjalan dengan sangat menyenangkan.

         Saya katakan menyenangkan karena kami diberi permainan yang sungguh membuat kami tertawa lepas, terbahak-bahak (bahkan sampai lupa kalau punya utang, hehhehehe) seakan membuka ingatan masa kecil dulu dan kini terulang kembali. Kami diberi permainan secara kelompok, di pilih secara acak, untuk mengambil bola dengan mata tertutup. Satu kelompok terdiri dari 3 (tiga) orang. Bagian baris paling depan berdiri dengan mata di tutup kain. Baris kedua memegang bahu baris pertama dengan mata tertutup juga. Sedangkan baris ketiga memegang bahu baris kedua dan mata tidak di tutup dengan tugas menjadi navigator untuk mengarahkan, mencari dan mengambil bola (bisa dibayangkan, betapa ramainya, ributnya, bingungnya). Keseruan terjadi, permainan sungguh lucu ini membuat kami tertawa full, berkeringat namun membutuhkan konsentrasi penuh. Seperti biasa di akhir kegiatan, foto-foto menjadi ritual khusus sebelum pulang ke rumah masing-masing.

         Begitu juga saat kegiatan lokakarya 2 (dua) yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 4 Desember 2022 di SMA Negeri 2 Sampang. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WIB. Lokakarya 2 disajikan tema Visi untuk perubahan lingkungan belajar.  Kegiatan ini membahas tentang visi yang sudah dibuat pada modul 1.3 dan prakarsa perubahan yang sudah di rancang oleh para Calon Guru Penggerak untuk mewujudkan visi tersebut, juga membahas tentang apresiatif inkuiri yaitu pendekatan yang digunakan untuk mencapai visi yang dikenal dengan BAGJA. Selain itu materi Budaya positif yang bisa diterapkan di sekolah juga dipaparkan dan materi yang terakhir yaitu bagaimana penerapan segitiga restitusi.

         Penerapan Restitusi dilaksanakan dengan bermain peran, kebetulan saya mendapat kesempatan berperan sebagai guru sedangkan bu Novi berperan sebagai murid yang melakukan kesalahan. lokakarya 2 ini juga dikemas dengan belajar sambil bermain, kita menyanyi dan menari, Sejenak kita dibawa ke masa kecil kita dulu. Dan kita bisa tertawa lepas, bebas (lupa kalau di rumah cucian piring banyak, setrikaan menggunung, heheheheh). Dalam hati bergumam “andai lokakarya ini diadakan seminggu sekali, bisa awet muda”, karena isinya kita belajar, bermain, tertawa, namun tidak melupakan hakikat dari sebuah tujuan pembelajaran karena dalam kegiatan lokakarya 2 ini semuanya berjalan lancar sesuai harapan yang di antaranya belajarnya dapat, bahagianya dapat, teman baru dapat, ilmu baru dapat, suksesnya dapat, amplop juga dapat (uupss......keceplosan, hihihihhihi). Tepat jam 15.30 WIB acara selesai dan alhamdulillah, tujuan pembelajaran juga tercapai. Seperti biasa untuk mengabadikan kegiatan lokakarya ini maka setiap akhir kegiatan di isi dengan foto bersama dengan seluruh peserta.

         Seiring waktu berjalan, lokakarya ketiga kembali digelar pada hari Minggu, 18 Desember 2022 di UPTD SDN 1 Banyuanyar. Alhamdulillah mendapat teman baru lagi karena tiap lokakarya selalu diacak baik tempat maupun pesertanya. Sebelumnya kami mendapat informasi untuk mempersiapkan RPP diferensiasi dan RPP sosial emosional. Yang mewakili praktik mengajar terkait pembelajaran yang berdiferensiasi dikelas kami saat itu adalah bu Ida. Sedangkan yang pembelajaran terkait sosial emosional diwakili oleh bu Yeri. Saat itu sebenarnya saya dalam keadaan bingung di satu sisi saya ingin mengikuti seminar, disisi lain ada rapat koperasi yang harus saya hadiri. Setelah saya komunikasikan dengan pengajar praktik, akhirnya beliau memberi saya ijin keluar sebentar untuk mengikuti rapat koperasi. Kembali ke lokasi lokakarya dengan perasaan bersemangat, bagaimana tidak semangat?, kami diajak belajar sambil bermain lagi, menyanyi bersama juga menari bersama (berasa menjadi anak TK, bahagianya karena saya dulu tidak sekolah TK tapi langsung sekolah SD). Selama kegiatan berlangsung ada kewajiban kami untuk mengadakan observasi dan evaluasi salah satunya mengisi LK yang sudah di sediakan, menulis refleksi terkait kegiatan yang sudah dilaksanakan. Jam sudah menunjukkan 15.30 WIB, kegiatan berakhir dan seperti biasa, acara foto bersama sebelum pulang ke rumah masing-masing.

         Setelah mengikuti rangkaian kegiatan CGP di LMS selama kurang lebih 4 bulan, sudah melaksanakan lokakarya sebanyak 4 (empat) kali. Lokakarya orientasi dilaksanakan secara daring sedangkan lokakarya 1, lokakarya 2, dan lokakarya 3 dilaksanakan secara luring seperti yang sudah saya tulis di atas. Hingga buku ini di tulis kami sudah menyelesaikan 2 (dua) modul dengan alur pembelajaran atau alur kegiatan yang sama di setiap modul. Jujur saya merasa tertampar dengan materi yang saya muridi. Di modul 1.1 membahas tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Pendidikan, yang mana materi ini sekaligus membuka mindset saya dan sebagai refleksi diri saya pribadi, bagaimanakah saya selama ini sebagai guru, apakah saya sebagai guru sudah sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, di antaranya yang di nyatakan oleh beliau bahwa guru ibarat petani, apakah selama ini saya sudah seperti itu?. Ternyata pengetahuan saya selama ini tentang pendidikan tidak sesuai dengan tujuan dan filosofi bapak pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara. Satu hal yang paling mendasar bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia, sehingga murid dapat mencapai kodrat alam sesuai dengan keinginan mereka.

         Untuk menjadi sosok guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, pembelajaran yang berpihak pada murid, menghamba pada murid, yang dilakukan guru semua untuk murid dan murid. Apalagi selama ini selama ini pola pikir sudah keliru jadi untuk mengubahnya pasti ada tantangan perlu proses dan di dalam proses membutuhkan waktu. Kuncinya adalah melakukan perubahan di diri sendiri. Untuk mengatasi tantangan tersebut di atas maka salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjadi sosok guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara salah satunya adalah terlibat langsung dalam program pendidikan guru penggerak.

         Sebagai guru baru pindahan di UPTD SMP Negeri 1 Sampang, yang mendaftar program pendidikan guru penggerak kemudian lolos dan harus mengikuti pendidikan selama kurang lebih 9 bulan Selama pelaksanaan program pendidikan guru penggerak ini, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru dengan kata lain tidak mengganggu jadwal mengajar, awalnya menjadi beban pikiran  untuk saya pribadi. Keluar keringat dingin saat ada pertanyaan oleh rekan sejawat  “apa yang diberikan pada sekolah dengan ikut pendidikan guru penggerak”, saat itu tidak ada bekal sama sekali, mau jawab apa yang enak dan membangun sebuah pemahaman tentang program guru penggerak ini. Yang ada dalam pikiran saya adalah saya bisa mengikuti kegiatan PGP ini dengan baik dan ada hal baik atau perubahan yang lebih baik dan dilakukan dengan istiqomah yang bisa di ikuti oleh rekan sejawat.

 

TANTANGAN = REFLEKSI

         Dalam kegiatan PGP ini, ada agenda rutin, seminggu sebelum lokakarya yaitu Pendampingan Individu (PI). Kegiatan PI ini merupakan kunjungan pengajar praktik ke sekolah tempat CGP mengajar. Bersyukur saya mendapatkan pengajar praktik pak Saiful, beliau guru SMAN 1 Sampang. Pak Saiful adalah pribadi yang cerdas, sabar, baik (banget malah) dan sangat pengertian. Pak Saiful tidak pernah memaksakan jadwal pendampingan. Beliau senantiasa memberi kesempatan ke saya untuk bermusyawarah dengan CGP yang satu sekolah (Pak Yas dan Bu Wahidah) agar jadwal pendampingan bisa dilakukan pada hari yang sama. Bersyukur hingga saat ini selama pendampingan selalu bisa dilaksanakan dengan jadwal yang sama. Pendampingan pertama  berjalan dengan baik, masing-masing  PP sudah melakukan komunikasi dengan CGP. Pak Syaiful menanyakan bagaimana perasaan saya selama melaksanakan kegiatan CGP, adakah kesulitan atau adakah kendala selama kegiatan berlangsung, perubahan apa atau hal baik apa yang sudah lakukan setelah mengikuti PGP ini dengan kata lain pak Saiful benar – benar datang untuk mendengarkan “cerita/curhat” dari seorang CGP terkait apa yang sudah di alami, Ada pengalaman yang tidak akan saya lupakan pada saat pendampingan.

         Pendampingan Individu sudah di sepakati, namun di luar prediksi ada kegiatan persiapan tengah semester di sekolah, saat itu saya merasa tidak nyaman kepada para pengajar praktik. Di satu sisi saya harus mengikuti PI di sisi yang lain saya mempunyai tanggung jawab sebagai koordinator stand pameran kelas VIII. Saya dipanggil dan di tanyakan perihal kesiapan stand pameran yang belum di hias. Duh.....saya langsung blank, bingung luar biasa dan ingin menangis, bagaimana cara membagi waktunya, stand kelas VII dan kelas IX sudah selesai di hias. Pendampingan belum selesai lalu harus menghandle stand pameran. Memang perlu kesabaran ekstra, berusaha berkomunikasi dengan rekan sejawat meminta bantuan dan pengertian. Alhamdulillah urusan stand pameran teratasi dan masih bisa mengikuti pendampingan hingga selesai.  

         Sedangkan tantangan terberat selama proses kegiatan CGP, saya kesulitan menemukan ide baru untuk sebuah perubahan yang bisa dilakukan di sekolah. Ide yang saya miliki sepertinya sudah ada, sudah berjalan dan diterapkan di sekolah. Saya juga bukan guru yang berprestasi, bukan guru yang istimewa, saya guru berasal dari desa yang ingin belajar. Saya lebih banyak diam dan kondisi seperti ini membuat saya tidak percaya diri. saya terpasung dengan keadaan yang demikian. Beruntung sekali saya memiliki pengajar praktik dan teman CGP yang sangat support dan mengerti kondisi saya. Saya diberi masukan membuat saya makin bersemangat untuk menggali lebih dalam tentang hal baik apa yang bisa saya lakukan dan bisa dijadikan teladan atau contoh bagi rekan sejawat.

         Tantangan lain yaitu saat melakukan aksi nyata lalu merefleksikan  kegiatan apa saja yang sudah saya lakukan.  Berangkat dari rasa tidak percaya diri, ragu-ragu dan khawatir salah, akhirnya bisa menyelesaikan modul 1.1. Untuk menyelesaikan aksi nyata modul 1.1. diperlukan semangat yang tinggi khususnya dalam merencanakan dan menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Salah satu pemikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu “menghamba pada anak”, membuat saya untuk berpikir lebih dalam bagaimana cara agar selalu mengerahkan kemampuan saya untuk memberikan hal terbaik baik murid. Tidak ada kata malas untuk menyediakan fasilitas, menguras ide untuk berkreativitas. Inti dari pendidikan yang dicetuskan oleh beliau adalah memerdekakan anak dalam hal pembelajaran. Maksudnya di sini adalah, sebagai guru kita memfasilitasi murid kita dalam memberikan pendidikan dan pengajaran yang berpihak pada mereka dengan tujuan agar murid menjadi lebih bebas dalam mengeksplorasi bakat dan minat mereka sendiri sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

         Hal ini merupakan hal baru bagi saya, walau begitu saya tetap bersemangat dan senang sekali dalam menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Murid-murid juga turut senang dan bersemangat, hal ini terlihat dari wajah-wajah murid saya ketika pembelajaran saya berlangsung di kelas. Dalam proses menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas, saya merasa sudah terdapat banyak perubahan kecil yang saya lakukan yang berkaitan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Hal yang saya terapkan juga mendapatkan umpan balik yang positif baik murid saya maupun rekan kerja di lingkungan sekolah sehingga saya semakin bersemangat untuk terus melakukan perubahan yang lebih baik dan bermakna.   .

         Selalu bersyukur kepada Allah SWT, dengan penuh perjuangan  akhirnya saya juga bisa menyelesaikan tantangan modul 1.2. Perasaan sangat bahagia dan terharu, karena setahap demi setahap mampu melewati kegiatan PGP ini. Oleh karena itu saya berpikir, bahwa proses menguatkan nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak perlu juga diteruskan dan ditularkan kepada rekan kerja, rekan sejawat, bahkan kepada anggota komunitas yang saya ikuti sekaligus melakukan aksi nyata di modul 1.2. karena berdampak sangat luar biasa bagi murid juga guru pada khususnya untuk menciptakan karakter profil pelajar Pancasila.

         Dan merupakan sebuah tantangan juga saat saya diminta untuk merefleksikan kegiatan pembelajaran modul 1.2 tentang nilai-nilai dan peran guru penggerak ini. Ketika awal mempelajari alur MERDEKA modul 1.2 pada tanggal 12 September 2022 tentang Nilai-nilai dan peran Guru Penggerak. Ternyata materi di modul 1.2 ini lebih banyak dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mempelajarinya di bandingkan modul 1.1. Setelah mempelajari materi dan berdiskusi di alur eksplorasi konsep, saya dan teman-teman melanjutkan kegiatan diskusi di ruang kolaborasi. Pada pertemuan ini kami dibagi menjadi 2 kelompok kecil. Di dalam kelompok kami diminta membuat karya berisi gambaran singkat yang berbasis kekuatan nilai GP kemudian merancang satu kegiatan yang sesuai dengan satu peran GP yang di pilih.           Setelah diskusi kelompok kecil, kami di ingatkan oleh ibu Yuliana selaku fasilitator untuk melanjutkan dengan agenda presentasi (Rukol sesi 2) tepatnya pada hari Sabtu, 17 September 2022 mulai dari  Pukul : 15.45 - 18.00. Kegiatan berjalan lancar dan seperti biasa di akhiri dengan kegiatan refleksi yang di pimpin oleh ibu Yuliana. Kegiatan modul 1.2 ini di akhiri dengan kegiatan diskusi virtual di ruang elaborasi pemahaman bersama instruktur nasional yaitu ibu Nur Hanifah. Pemaparan materi yang disampaikan begitu sangat baik dan jelas serta mudah di mengerti.

         Jujur, setelah mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, saya sadar bahwa sebenarnya nilai guru penggerak sudah dimiliki namun tidak diterapkan secara maksimal. Setelah masuk dalam kegiatan PGP ini saya merasakan sebuah pergerakan dalam hati, saya mulai tergerak untuk melakukan perubahan nyata pada diri saya pribadi, saya ingin memperbaiki hal-hal yang baik selama menjadi guru, saya merasa jauh dari kata ideal sebagai seorang guru. Oleh karena itu saya semakin bersemangat untuk menerapkan dan berusaha mengembangkan kompetensi saya sebagai guru dengan cara mengikuti pelatihan, seminar secara mandiri tanpa diperintah, melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan menerapkan model dan media pembelajaran yang inovatif, berkolaborasi  baik dengan murid, rekan sejawat maupun dengan kepala sekolah juga lingkungan masyarakat, menjadi coach bagi guru lain jika ada yang kesulitan dalam hal pemanfaatan aplikasi yang mendukung pembelajaran serta aktif dalam komunitas praktisi dengan mengadakan pertemuan secara rutin.  

 

I LOVE “CANVA”

         Untuk menggapai harapan tentu ada hal yang membuat kita bisa mengambil hikmah dari semua yang sudah kita jalani termasuk kegiatan PGP yang di ikuti saat ini. Banyak hal luar biasa yang saya dapatkan dari kegiatan PGP. Khususnya materi yang terdapat dalam modul-modul yang makin kesini modulnya makin asyik. Terkait tugas yang harus dikumpulkan biasanya. Misal tugasnya berbunyi “Buatlah satu karya (karikatur, info grafis, video pendek, komik, lagu, puisi, dll) untuk menggambarkan pemikiran filosofis KHD sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman baru yang Anda per oleh”. Nah....perintah tugas seperti ini jujur saja, membuat saya takut, pusing, bingung, gemetar juga iya, karena memang tidak bisa membuat karya yang disebutkan di atas. Jadi saya memakai cara cepat yaitu mengarahkan murid untuk membuat atau mengedit tugas menjadi video, karikatur, info grafis dan teman-temannya. Beres tugas....Namun di sisi hati yang lain, hati nurani berbicara “masak iya sampai 9 bulan ke depan jika ada tugas mau mengandalkan kemampuan murid?”. Jiwa kepo saya meronta, saya menelepon bu Yeri karena beliau ahli soal edit mengedit. Saya mengadakan kesepakatan dengan bu Yeri. Niat telah kuat dan tekat sudah bulat, saya harus bisa membuat dan mengerjakan tugas sendiri. Saya tertarik belajar aplikasi Canva. Butuh waktu satu jam untuk belajar Canva. Masih jelas dalam ingatan saat itu hari Kamis tanggal 22 September 2022, saya berangkat dari rumah diantar suami jam 19.00 WIB jam 20.00 WIB saya pulang. Tiba di rumah, saya buka laptop belajar buat tugas dengan aplikasi Canva hingga tidak terasa jam menunjukkan jam 02.00 WIB dini hari. Saking sukanya pada aplikasi Canva ini saya membuat status di WA dengan kata “I LOVE CANVA”. Alhamdulillah, sekarang kalo ada tugas maka Canva menjadi andalan. Selain mengetahui bagaimana mengoperasikan aplikasi Canva (walau masih sangat sederhana), saya juga sudah bisa membuat info grafis, membuat video pendek sekaligus mengunggahnya di youtube, masya Allah, bahagia dan senanng rasanya., ada beberapa  momen yang sangat berkesan dan bermakna.

         Momen yang sangat berkesan dan bermakna bagi saya, saat melakukan praktik penerapan segitiga restitusi. Bermain peran dengan murid di shooting dan di upload di youtube. Hal ini pengalaman pertama  walau hanya beberapa menit tapi melalui take yang beulang-ulang. Tidak mudah membangun sebuah chemistery sehingga nampak natural. Membuat keyakinan kelas bersama murid yang merupakan pengalaman baru buat mereka, awalnya susah memberi pemahaman tentang perbedaan peraturan kelas dengan keyakinan kelas, namun berkat kerja keras, kerja sama dan usaha para murid, akhirnya pembuatan keyakinan kelas berjalan lancar sesuai rencana dan hasilnya dari keyakinan kelas sudah terpampang rapi di mading kelas. Begitu pula saat mengadakan seminar tentang budaya positif yang bisa diterapkan di sekolah. Kebetulan saya mengadakan seminar pada hari Senin, tanggal 14 November 2022 di komunitas MGMP PPKn yang dilaksanakan di UPTD SMPN 3 Sampang. Sebuah penghargaan yang luar biasa diberi kesempatan untuk memaparkan salah satu materi di modul guru penggerak terkait budaya positif di depan para guru senior, apalagi di shooting.  Materi seminar yang saya sampaikan mendapat respon yang luar biasa,  karena merupakan ilmu pengetahuan baru yang tidak pernah di dapat sehingga teman – teman MGMP sangat antusias mendengar paparan materi ini.

         Selama ini (termasuk saya) teman-teman beranggapan bahwa disiplin itu erat kaitannya dengan hukuman, padahal itu merupakan anggapan yang keliru. Juga saat saya memaparkan materi tentang “keyakinan kelas”, teman-teman sangat tertarik dan sangat bersemangat sekali. Andai tidak ada batasan waktu mungkin seminar bisa sampai 3 jam. Karena materi ini benar – benar menarik dan bisa dijadikan sebuah kebiasaan dan budaya positif yang bisa diterapkan di sekolah masing-masing. Semangat itu terlihat karena dari awal hingga akhir kegiatan seminar, tidak ada satupun yang beranjak meninggalkan ruangan keculi ijin ke belakang.

         Yang terakhir adalah momen kami para CGP melakukan praktik coaching. Kami bergantian berperan baik sebagai pengamat, Coach maupun sebagai Coaching. Sungguh tidak mudah, take nya dilakukan secara berulang, karena terkadang pembahasan terlalu melebar dan keluar dari materi bahkan tiba-tiba diam, blank dan bingung mau ngomong apa setelah ini, tertawalah kami( seru full), kami melakukan praktik coaching ini selama 2 hari. dihari pertama dilakukan di TKIT Nurul Hidayah sedangkan hari kedua dilakukan di UPTD SMPN 1 Sampang. Sedangkan hal lucu yang pernah saya alami adalah saat mengikuti elaborasi melalui g-meet saya terburu-buru akhirnya memakai jilbab putri bungsu saya “Syahdu”, tanpa di duga Syahdu masuk ruangan lalu menarik jilbab yang saya pakai, Syahdu said :”mana jilbab adik?” auto panik, akhirnya kamera saya off kan berganti jilbab seadanya. Pengalaman seperti ini tidak akan terulang dan sangat mahal tidak bisa dibeli dengan uang

 

 MENGUKIR HARAPAN BERSAMA GURU PENGGERAK

         Setelah melewati rangkaian kegiatan PGP hingga saat ini, besar harapan saya, para CGP bisa menjadi teladan dan transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila  yang  Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mandiri, Gotong royong, Kritis, Kreatif, dan Berkebhinekaan Global kemudian dalam pelaksanaannya CGP tetap berpijak pada 5 (lima) nilai, yakni mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif, dan berpihak pada murid.

           Setelah mengikuti kegiatan PGP selama kurang lebih 4 bulan, telah membuka mindset saya, yang awalnya saya merasa takut tidak bisa mengikuti PGP dengan baik karena keterbatasan keterampilan IT juga sudah menyiapkan mental tidak akan diterima, bahkan sempat menilai tim penguji mungkin salah menerima saya sebagai salah satu calon guru penggerak, seharusnya bukan saya dan masih banyak yang lain yang lebih baik dari saya. Ternyata semakin kesini, saya semakin menyadari bahwa saya tidak salah dan saya sudah berada di tempat yang TEPAT.

         Program Guru Penggerak ini membawa perubahan dan dampak yang sangat luar biasa bagi transformasi pendidikan terutama untuk saya pribadi. Salah satunya adalah mempunyai semangat untuk melakukan perubahan dari diri sendiri sehingga bisa memotivasi dan menginspirasi terutama bagi murid saya dan bisa membangun komunikasi yang positif dan efektif dengan seluruh warga sekolah khususnya dengan stakeholder yang ada di sekolah dalam hal dukungan terhadap program yang akan dilakukan selama proses PGP berjalan atau bahkan selesai. Semoga saya bisa melakukan perubahan walau kecil namun bermakna dan istiqomah.  

          Program Pendidikan Guru Penggerak ini  menurut saya pribadi sangat bermanfaat, bukan karena di iming-imingi bisa menjadi kepala sekolah bahkan menjadi seorang pengawas akan tetapi materi yang ada dalam Program Pendidikan Guru Penggerak ini sangat luar biasa. Tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah bahkan di seminar atau pelatihan dan atau workshop yang pernah saya ikuti. Selain materi yang luar biasa, komunikasi antar calon guru penggerak sangat mendalam, menumbuhkan rasa persaudaraan yang erat, dan bila semua guru se Indonesia dari tingkat pendidikan dasar sampai menengah melaksanakan semua ilmu yang ada di Pelatihan Guru Penggerak maka saya yakin Pendidikan Indonesia akan sangat maju. Karena jika lulus seleksi akan banyak manfaat yang diperoleh di antaranya bisa mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri, bisa merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melibatkan orang tua, serta bisa mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah. Akhir cerita, selama mengikuti PGP ini saya diarahkan untuk menjadi pribadi yang mahir bersosialisasi tanpa menunjukkan keakuanku, lebih menghargai pendapat orang lain, berdiskusi untuk mencari solusi terbaik bukan ajang untuk menjatuhkan satu sama lain.  

 

BAGIAN PENUTUP

Pasangan bapak Sumbri Rasjid berprofesi sebagai guru dan ibu Siti Kiptiyah sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagai penjahit, melahirkan seorang putri pada tanggal 18 Januari 1980 yang begitu manis yang diberi nama Arwani Rahmawati. Arwani Rahmawati merupakan anak ke dua dari enam bersaudara dan saat ini sudah menikah dengan R. Chandra Wijayanto, mempunyai 3 buah hati (mbak Putri, mas Azzam, dek Syahdu). Arwani yang mempunyai hobby membaca dan memasak dan saat ini beralamatkan di Perumahan Barisan Indah Blok AC. No. 16 Kec. Sampang Kab. Sampang.        Pendidikan tinggi yang ditempuhnya adalah antara lain: S-1 pertama, Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Pemasaran di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), S-1 kedua, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), di STKIP PGRI Sampang. Studi lanjut S-2 pada Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

 

“Bukan guru istimewa, hanya guru biasa yang ingin selalu berkarya” 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

3.1.a.8. Koneksi Antar Materi