Sebelum (benar-benar) bergerak
JEJAK MASA LALU
Pada tahun 1987 bapak saya di mutasi ke daerah Utara Sampang
di kecamatan Sokobanah, tepatnya di SD Negeri III Bira Tengah sebagai Kepala
Sekolah namun saya tidak sekolah di tempat bapak saya bertugas melainkan
sekolah di SD Negeri Bira Tengah II langsung kelas 3, karena sebelum mutasi ke
Sokobanah, kelas 1 hingga kelas 2 saya sekolah di SDN Pangarengan 1 kecamatan
Torjun. Setelah lulus SD saya melanjutkan ke SMPN 1 Sokobanah. Setelah menimba
ilmu selama tiga tahun saya lulus lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Ketapang.
Lulus SMA saya kuliah di UNIBANG (Sekarang berganti nama Universitas Trunojoyo-
Madura) mengambil jurusan Ekonomi. setelah selesai kuliah, saya bekerja sebagai
guru honorer di SMP Negeri 1 Sokobanah, dan juga mengabdi di MTs. Darussalam
Al-Faisholiyah Kec. Ketapang Sampang, MA. Darussalam Al-Faisholiyah Kec.
Ketapang Sampang pada tahun 2003 hingga 2007.
Alhamdulillah di terima Pegawai Negeri Sipil (PNS), pada
tahun 2008 langsung di tempatkan di UPTD SMP Negeri 3 Torjun. Sebuah sekolah
yang berada di daerah bukit tepatnya di Desa Tanah Merah kecamatan Torjun. Pada
pertengahan tahun 2020, saya mengajukan mutasi sebagai pengganti guru yang
purna tugas di UPTD SMP Negeri 1 Sampang, akhir tahun 2020 SK Mutasi saya
turun. Tepat di hari Senin tanggal 18 Januari 2021 (bersamaan dengan hari ulang
tahun), saya mulai mengajar di UPTD SMP Negeri 1 Sampang hingga sekarang dan
mulai tahun 2023 ini kembali mengabdi sebagai dosen di STKIP PGRI Sampang
setelah cuti dari tahun 2017 sampai tahun 2022 karena selama cuti saya melanjutkan pendidikan ke pascasarjana (S2) Universitas
PGRI adi Buana Surabaya agar lebih fokus dan kebetulan saya hamil anak ketiga. Berbicara
tentang pengabdian tentu ada pengalaman berharga dan ilmu baru yang bermanfaat
saya dapatkan.
Pengalaman saya selama menjadi guru di UPTD SMP Negeri 3
Torjun, saya dipercaya menjadi wakil kepala sekolah selama 10 tahun (sejak
tahun 2008 hingga 2018), Selain sebagai wakil kepala sekolah saya juga di beri
tugas tambahan sebagai bendahara gaji selama 12 tahun (2008-2020), saya tidak
paham dan bertanya-tanya “mengapa sampai selama itu saya tidak diganti?”. Saat
ini saya mengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila (PP) kurikulum merdeka
kelas VII dan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
kelas IX kurikulum 2013, Selain mengajar saya diberi kepercayaan untuk menjadi
wali kelas mulai tahun 2021 semester genap hingga buku ini ditulis, diberi
tugas tambahan pula menjadi bendahara pengurus barang mulai 2022. Saya juga
dipercaya menjadi bendahara PGRI Ranting UPTD SMP Negeri 1 Sampang periode
2021-2025. Selain hal tersebut di atas saya juga di beri amanah sebagai pembina
OSIS Sek. Bidang VII (tujuh) yang berhubungan dengan UKS (Usaha Kesehatan
Sekolah). Saya juga diberi kepercayaan sebagai Bendahara II Koperasi Aneka
Usaha UPTD SMP Negeri 1 Sampang. Saya juga aktif dalam kegiatan MGMP
(Musyawarah Guru Mata Muridan) PPKn Kabupaten Sampang. MGMP merupakan adalah
suatu wadah yang strategis untuk meningkatkan kompetensi guru dan murid dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikan secara umum, jadi menurut saya rugi jika
sebagai guru tidak mau bergabung MGMP karena manfaatnya sangat luar biasa di antaranya
memperluas wawasan dan pengetahuan guru dalam berbagai hal, khususnya
penguasaan substansi materi pembelajaran, penyusunan silabus, penyusunan
bahan-bahan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran,
memaksimalkan pemakaian sarana/prasarana belajar serta bagaimana memanfaatkan
sumber belajar. Saat ini saya di percaya menjadi sekretaris MGMP PPKn Kabupaten
Sampang masa bakti tahun 2021-2025. Bersyukur
sekali dengan segala kesibukan yang ada, keluarga senantiasa memberikan
dukungan.
MENGUMPULKAN PUING SEMANGAT
MENUJU HALAMAN GURU PENGGERAK
Salah satu bentuk dukungan suami adalah beliau menyetujui dan
sepakat tanpa syarat saat saya untuk mendaftar Program Pendidikan Guru
Penggerak. Mengetahui informasi tentang Program Pendidikan Guru Penggerak, sejak
awal tahun 2021 saat dipanggil kepala sekolah untuk membahas wisata belajar murid
- siswi UPTD SMP Negeri 1 Sampang ke pendopo Kabupaten Sampang dan melakukan
audiensi dengan bapak bupati beserta wakil bupati. Saya jawab “siap” walau pada
saat itu saya kurang paham apa itu guru penggerak. Pulang sekolah saya
penasaran dengan apa yang di sampaikan kepala sekolah terkait program guru
penggerak ini. Saya buka laptop dan mulai mencari informasi tentang apa dan
bagaimana serta manfaat dari program guru penggerak ini untuk pendidikan dimasa
yang akan datang. Bahkan saya bergabung dengan komunitas guru penggerak di
Facebook. Jika melihat postingan cerita dan pengalaman guru penggerak yang pernah
ikut, kegiatannya padat dan tugasnya juga banyak. Rasanya kalah sebelum
berperang.
Akhir tahun 2021 ada pesan yang di teruskan berkali di grup
WA baik di grup sekolah maupun grup MGMP, bahwa pendaftaran Program Pendidikan
Guru Penggerak akan segera dibuka. Hati ini mulai gelisah antara takut, khawatir
dan tidak percaya diri karena saya merasa tidak mempunyai kelebihan. Saya guru desa
yang biasa-biasa saja. Walau demikian saya semangat dan ingin terus belajar serta
berkarya apalagi UPTD SMP Negeri 1 Sampang merupakan sekolah center di
Kabupaten Sampang. Saya merasa terlalu lama berada di Zona nyaman saat masih
mengabdi di UPTD SMP Negeri 3 Torjun. Saya harus bangun dan saya harus berlari
untuk mengejar ketertinggalan ini. Saya segera berusaha dan belajar memantaskan
diri serta beradaptasi dengan lingkungan dan suasana yang sangat jauh berbeda.
Saya katakan berbeda karena dilihat dari jumlah murid,
sarana dan prasarana yang tersedia, latar belakang sosial, pendidikan dan
ekonomi wali murid (bukan bermaksud membedakan, tapi fakta menunjukkan demikian).
Terbersit kesedihan di hati saya, betapa saya tidak ada apa-apanya, selama ini
saya ke mana, saya terlalu lama tidur, saatnya saya bangun dari mimpi. Saya
ingin memberikan yang terbaik khususnya di bidang pendidikan. Hal inilah yang
memotivasi saya mendaftar menjadi Guru Penggerak karena saya ingin mengembangkan
dan meningkatkan kompetensi yang ada dalam diri saya yang tidak hanya
mengembangkan pengetahuan saja namun mampu memberi contoh sikap dan perilaku
yang mencerminkan pribadi Pancasila, dan memiliki keterampilan yang cakap
khususnya dalam bidang pendidikan sehingga saya bisa dan mampu untuk memberikan
pelayanan terbaik buat anak-anak generasi penerus bangsa demi tercapainya
tujuan nasional atau cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam
Pembukaan Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tepatnya
di alinea ke -IV dan tujuan nasional tersebut bisa tercapai salah satunya
melalui proses pendidikan.
MEMBANGUN ASA DI KAWAH
CANDRADIMUKA “PGP”
Bermodal nekat dan niat yang kuat, saya memberanikan diri
dan membangun puing-puing semangat untuk mendaftar dan melengkapi berkas yang
harus di unggah. Awalnya saya mengisi data pribadi, lalu membuat surat
rekomendasi dari kepala sekolah dan dari teman sejawat. Masih teringat jelas di
ingatan saat menulis essay saya dalam kondisi sakit (terpapar virus covid-19), merupakan
tantangan buat saya karena jawaban essay di tentukan jumlah kata-katanya,
secara saya kurang cakap dalam menulis, untungnya pertanyaan itu membutuhkan
jawaban yang berhubungan dengan pengalaman pribadi. Dan akhirnya selesai juga saya
dan saya unggah semua yang menjadi syarat di H-1. Saat dalam masa penantian
pengumuman penerimaan CGP (Calon Guru Penggerak), saya mendengar kabar bahwa
saat menulis essay di LMS harus ditulis langsung tidak boleh copypaste walaupun
dari hasil tulisan saya sendiri (plagiarisme). Seketika langsung pesimis dan
hati mulai berbicara sendiri “saya pasti tidak lolos ini”. entah mendengar
kabar ini saya harus sedih atau bahkan harus senang, yang jelas saya sudah
berusaha semaksimal mungkin, hasil akhir saya pasrahkan pada Allah SWT.
Benar kata pepatah bahwa usaha memang tidak pernah
berkhianat pada hasil, pengumuman tahap pertama, alhamdulillah, saya dinyatakan
lolos dan informasi dari SIMPKB, keluar jadwal saya untuk ujian mengajar. Saat
itu RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) harus unggah di LMS, kemudian RPP
tersebut saya gunakan saat ujian simulasi mengajar. Jujur walau sudah belasan
tahun mengajar, rasanya masih canggung dan demam panggung. Benar-benar saya
seperti guru yang baru belajar mengajar. Saya terus mengadakan latihan di depan
kaca. Karena waktu yang di perlukan saat simulasi hanya 10 menit dengan
ketentuan, kegiatan pendahuluan dua menit, kegiatan inti enam menit, kegiatan
penutup selama dua menit.
Jika mengingatnya saya suka senyum sendiri, sebelum ujian
mengajar, saya latihan sendiri menjelang tidur sambil tiduran pula untuk
memastikan bahwa pada saat simulasi nanti, waktu yang tersedia bisa dialokasikan
dengan maksimal, terkadang menitnya berjalan saya tertidur, saat bangun waktu
rekaman tertera tiga puluh delapan menit. Banyak tidurnya daripada latihannya.
Pernah suatu ketika saya latihan “ngoceh” sambil cuci piring, tiba-tiba anak
saya bilang dari belakang “ibuk itu kenapa, kok ngomong sendiri” dan saya pun
hanya tertawa dan bergumam “naaak...ibukmu mau ujian niiiii....”. Dua hari
menjelang simulasi, kami Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 6 melakukan
latihan di sekolah diruang aula mini sekaligus cek laptop, audio, media
pembelajaran dan persiapan lainnya. Kebetulan di UPTD SMP Negeri 1 Sampang ada
3 (tiga) orang yang lolos yaitu bapak Yas Wahyudi Hadi Prayitno, ibu Wahidah
dan saya sendiri. Alhamdulillah, kami bertiga saling support dan saling
melengkapi. Sangat bersyukur karena selalu dipertemukan dengan orang yang penuh
ide, pintar dan luar biasa baiknya.
Pada saat ujian mengajar saya mengambil materi keberagaman
dalam masyarakat Indonesia, saya menggunakan media gambar saat itu kemudian
saya peragakan di depan dua tim penguji dengan menggunakan aplikasi geogle
meet. Alhasil ujian mengajar berjalan lancar dan sesuai harapan. Tinggal
menunggu ujian tahap akhir yaitu wawancara. Untuk mengetahui kapan jadwal tes
wawancara, Saya harus rajin mengecek SIMPKB, karena jadwal tes wawancara
masing-masing peserta berbeda. Pada saat wawancara saya berusaha menjawab semua
pertanyaan dengan sebenar benarnya sesuai dengan pengalaman yang saya alami.
Wawancara tidak terasa berjalan kurang lebih 90 (sembilan puluh) menit di tanya
oleh dua tim penguji, mengalir apa adanya sehingga wawancara berasa podcast,
dan perasaan agak lebih tenang dan lebih siap akan hasil dari
pengumuman tahap akhir.
Sungguh di luar dugaan saya, bisa lolos calon guru
penggerak. Ini merupakan kejutan yang luar biasa bagi saya. Perasaan saya
campur aduk, di satu sisi sangat bahagia dan bersyukur sekali bisa mendapat
kesempatan untuk belajar, bertemu dengan komunitas guru yang hebat, serta
mendapat pengalaman yang luar biasa, namun di sisi yang lain saya merasa sangat
tidak percaya diri, kemampuan IT saya rendah dan bertambah khawatir melihat
jadwal program pendidikan guru penggerak ini. Muncul rasa ragu apakah saya
mampu mengikuti kegiatan ini hingga selesai, mampukah saya menyelesaikan dan
memenuhi semua tugas yang di berikan nanti.
Namun saya tetap optimis dan tetap semangat sembari berdoa semoga diberi
kekuatan, kelancaran dan ilmu yang bermanfaat. Berkat dorongan dan dukungan
dari Kepala Sekolah, keluarga, rekan kerja serta para sahabat tercinta
membangkitkan adrenalin dan semangat
untuk terus maju. Saya harus pandai membagi waktu selama mengikuti PGP supaya
tidak mengganggu tugas saya baik di sekolah maupun di rumah.
Alhamdulillah, akhirnya
kegiatan PGP di awali setelah pembukaan Pendidikan CGP oleh Mendikbudristek
pada tanggal 24 Agustus 2022 secara daring. Kegiatan pembelajaran secara daring
melalui LMS diawali dengan pretest pada tanggal 29 Agustus 2022.
Lokakarya orientasi perdana dilaksanakan secara daring tanggal 3 September
2022. Para peserta CGP bersama Guru Pengajar Praktik dan Fasilitator membersamai
kami dalam kegiatan yang sangat kooperatif dan menyenangkan sehingga peserta
tidak merasa bosan. Banyak kegiatan positif yang dilakukan seperti membuat
kesepakatan kelas, mempresentasikan harapan dan kekhawatiran menjadi CGP.
Pada minggu pertama saya merasa kebingungan bahkan tidak
mempunyai bayangan tentang bagaimana nanti saya melangkah dan apakah saya mampu
untuk melaksanakan semua proses CGP dan menyelesaikan tugas-tugas di LMS. Namun
seiring berjalannya waktu dengan dipandu oleh Fasilitator, Pengajar Praktik dan
Calon Guru Penggerak yang lain dengan begitu sabar membersamai dalam setiap
kesempatan, saya bisa menjalani kegiatan PGP ini dengan semangat dan enjoy.
Bahagia karena berasa mempunyai keluarga dan saudara baru yang luar biasa
sayangnya, carenya dan baik hati. Jika
sudah menyelesaikan paket modul pertama maka akan diberikan ujian postest. Masuk
pada modul berikutnya selalu di awali dengan pretest lagi. Menurut saya
modul-modul yang ditampilkan dalam pogram guru penggerak ini sangat sistematis.
Kami para CGP belajar mandiri dengan menggunakan alur MERDEKA yang terdiri dari
Mulai dari diri, Eksplorasi Konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual,
Ruang Elaborasi, Koneksi antar Materi, sampai pada Aksi nyata. Dengan
menggunakan alur merdeka membuat pembelajaran menjadi sistematis, jelas dan
sangat mudah untuk dipahami, semuanya merupakan hal baru yang sangat luar
biasa.
Belajar mandiri melalui LMS dan g-meet dengan menggunakan
alur MERDEKA dalam pelaksanaan pendidikan guru penggerak ini menjadi kegiatan
rutin namun saya sudah mulai bersahabat dengan keadaan, merasa lebih enjoy
karena Pengajar Praktik dan Fasilitator selalu mengingatkan serta menuntun kami
agar mampu menyelesaikan tugas tepat waktu karena kami adalah “pejuang centang
biru”. Mempunyai label pejuang centang biru karena memang ada perjuangan untuk
mendapatkan centang biru. Teringat suatu peristiwa saat ada zoom di kegiatan
ruang kolaborasi (RUKOL), merasakan panik luar biasa. Masalah yang terjadi
karena baterai laptop dan baterai HP tinggal sedikit. Saya tidak tahu kalau di
rumah sedang mati lampu. Akhirnya saya telepon bu Wahidah dan mengutarakan niat
mengikuti zoom di rumah beliau. Ternyata apa yang terjadi, sesampai di rumah bu
Wahidah, mati lampu juga. Tidak mau patah semangat, saya tetap ikut RuKol
(ruang kolaborasi) menggunakan laptop walau dengan baterai yang mau habis.
Sebelumnya saya minta maaf dan mohon ijin pada fasilitator dan pengajar praktik
jika dalam pelaksanaan rukol tiba- tiba keluar dari ruang rapat karena
terkendala faktor x atau gangguan teknis. Akhirnya saya bisa menuntaskan
pelaksanaan rukol dengan menggunakan laptop dan HP secara bergantian.
Dan masih banyak pengalaman yang tidak akan pernah saya
lupakan di antaranya saat pak Saiful selaku Pengajar Praktik dan teman Calon
Guru Penggerak yang lain, antara lain : Pak Rasy, bu Nine, bu Yuni, Bu Yeri, Bu
Yuli, Bu Ida, Bu Wahidah dan saya sendiri bertemu secara langsung setelah
sekian lama berkomunikasi melalui zoom. Kami sepakat copydarat dan bertemu di
warung kopi saya. Kami makan bersama, ngeteh, ngopi, tertawa, menumpahkan semua
perasaan masing-masing, membahas, mengevaluasi dan berbagi pengalaman selama
kegiatan Pendidikan Calon Guru Penggerak. Waktu berlalu, malam makin larut dan
sebelum pulang, biasalah para emak jika sudah bertemu jika belum ada foto
session rasanya kurang afdol, kurang asyik. Kita berfoto-foto ria. Dan terakhir
mendengar cerita jika teman saya bu Ida, karena pulang terlalu malam sampai
tidak di sapa oleh suaminya.
Singkat cerita, tepatnya pada hari Minggu tanggal 30 Oktober
2022, kami CGP angkatan 6 Kabupaten Sampang melaksanakan lokakarya pertama.
Pada lokakarya yang pertama kami memperkenalkan diri dan menyebutkan sekolah
tempat kami mengajar, mengajar mata muridan apa dan alamat rumah dimana.
Pelaksanaan Lokakarya pertama di bagi menjadi 3 (tiga) lokasi, yaitu di SMAN 1
Sampang, SMAN 2 Sampang dan SDN Dalpenang 1 Sampang. Kebetulan lokakarya
pertama, saya di tempatkan di SDN Dalpenang 1 Sampang. Perasaan seru, senang,
gembira dan lucu mengikuti kegiatan lokakarya 1 ini karena dikemas dengan
konsep belajar sambil bermain, serius tapi santai, sehingga walau kegiatan ini
berlangsung dari jam 07.00 WIB hingga 15.30 benar – benar tidak terasa.
Benar yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa belajar
dan bermain bagian dari kodrat anak. Guru sebagai motivator dan fasilitator
bagi anak, anak mempunyai hak untuk mendapatkan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya. Karena pada hakikatnya belajar sambil bermain sangat
mengasyikkan dan bisa melahirkan energi positif bagi seorang anak. Di Lokakarya
pertama ini para Guru Pengajar Praktik sangat baik, sangat mengerti kami Calon
Guru Penggerak, sehingga kolaborasi tercipta dengan baik dan suasana lokakarya
berjalan dengan sangat menyenangkan.
Saya katakan menyenangkan karena kami diberi permainan yang
sungguh membuat kami tertawa lepas, terbahak-bahak (bahkan sampai lupa kalau
punya utang, hehhehehe) seakan membuka ingatan masa kecil dulu dan kini
terulang kembali. Kami diberi permainan secara kelompok, di pilih secara acak, untuk
mengambil bola dengan mata tertutup. Satu kelompok terdiri dari 3 (tiga) orang.
Bagian baris paling depan berdiri dengan mata di tutup kain. Baris kedua memegang
bahu baris pertama dengan mata tertutup juga. Sedangkan baris ketiga memegang
bahu baris kedua dan mata tidak di tutup dengan tugas menjadi navigator untuk mengarahkan,
mencari dan mengambil bola (bisa dibayangkan, betapa ramainya, ributnya,
bingungnya). Keseruan terjadi, permainan sungguh lucu ini membuat kami tertawa
full, berkeringat namun membutuhkan konsentrasi penuh. Seperti biasa di akhir
kegiatan, foto-foto menjadi ritual khusus sebelum pulang ke rumah
masing-masing.
Begitu juga saat kegiatan lokakarya 2 (dua) yang
dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 4 Desember 2022 di SMA Negeri 2 Sampang.
Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WIB. Lokakarya 2 disajikan tema Visi untuk
perubahan lingkungan belajar. Kegiatan
ini membahas tentang visi yang sudah dibuat pada modul 1.3 dan prakarsa
perubahan yang sudah di rancang oleh para Calon Guru Penggerak untuk mewujudkan
visi tersebut, juga membahas tentang apresiatif inkuiri yaitu pendekatan yang
digunakan untuk mencapai visi yang dikenal dengan BAGJA. Selain itu materi
Budaya positif yang bisa diterapkan di sekolah juga dipaparkan dan materi yang terakhir
yaitu bagaimana penerapan segitiga restitusi.
Penerapan Restitusi dilaksanakan dengan bermain peran,
kebetulan saya mendapat kesempatan berperan sebagai guru sedangkan bu Novi
berperan sebagai murid yang melakukan kesalahan. lokakarya 2 ini juga dikemas
dengan belajar sambil bermain, kita menyanyi dan menari, Sejenak kita dibawa ke
masa kecil kita dulu. Dan kita bisa tertawa lepas, bebas (lupa kalau di rumah
cucian piring banyak, setrikaan menggunung, heheheheh). Dalam hati bergumam “andai
lokakarya ini diadakan seminggu sekali, bisa awet muda”, karena isinya kita
belajar, bermain, tertawa, namun tidak melupakan hakikat dari sebuah tujuan
pembelajaran karena dalam kegiatan lokakarya 2 ini semuanya berjalan lancar
sesuai harapan yang di antaranya belajarnya dapat, bahagianya dapat, teman baru
dapat, ilmu baru dapat, suksesnya dapat, amplop juga dapat (uupss......keceplosan,
hihihihhihi). Tepat jam 15.30 WIB acara selesai dan alhamdulillah, tujuan
pembelajaran juga tercapai. Seperti biasa untuk mengabadikan kegiatan lokakarya
ini maka setiap akhir kegiatan di isi dengan foto bersama dengan seluruh
peserta.
Seiring waktu berjalan, lokakarya ketiga kembali digelar
pada hari Minggu, 18 Desember 2022 di UPTD SDN 1 Banyuanyar. Alhamdulillah
mendapat teman baru lagi karena tiap lokakarya selalu diacak baik tempat maupun
pesertanya. Sebelumnya kami mendapat informasi untuk mempersiapkan RPP diferensiasi
dan RPP sosial emosional. Yang mewakili praktik mengajar terkait pembelajaran
yang berdiferensiasi dikelas kami saat itu adalah bu Ida. Sedangkan yang
pembelajaran terkait sosial emosional diwakili oleh bu Yeri. Saat itu
sebenarnya saya dalam keadaan bingung di satu sisi saya ingin mengikuti
seminar, disisi lain ada rapat koperasi yang harus saya hadiri. Setelah saya
komunikasikan dengan pengajar praktik, akhirnya beliau memberi saya ijin keluar
sebentar untuk mengikuti rapat koperasi. Kembali ke lokasi lokakarya dengan
perasaan bersemangat, bagaimana tidak semangat?, kami diajak belajar sambil
bermain lagi, menyanyi bersama juga menari bersama (berasa menjadi anak TK,
bahagianya karena saya dulu tidak sekolah TK tapi langsung sekolah SD). Selama
kegiatan berlangsung ada kewajiban kami untuk mengadakan observasi dan evaluasi
salah satunya mengisi LK yang sudah di sediakan, menulis refleksi terkait
kegiatan yang sudah dilaksanakan. Jam sudah menunjukkan 15.30 WIB, kegiatan
berakhir dan seperti biasa, acara foto bersama sebelum pulang ke rumah
masing-masing.
Setelah mengikuti rangkaian kegiatan CGP di LMS selama kurang
lebih 4 bulan, sudah melaksanakan lokakarya sebanyak 4 (empat) kali. Lokakarya
orientasi dilaksanakan secara daring sedangkan lokakarya 1, lokakarya 2, dan
lokakarya 3 dilaksanakan secara luring seperti yang sudah saya tulis di atas.
Hingga buku ini di tulis kami sudah menyelesaikan 2 (dua) modul dengan alur
pembelajaran atau alur kegiatan yang sama di setiap modul. Jujur saya merasa
tertampar dengan materi yang saya muridi. Di modul 1.1 membahas tentang
filosofi pendidikan Ki Hajar Pendidikan, yang mana materi ini sekaligus membuka
mindset saya dan sebagai refleksi diri saya pribadi, bagaimanakah saya selama
ini sebagai guru, apakah saya sebagai guru sudah sesuai dengan filosofi Ki
Hajar Dewantara, di antaranya yang di nyatakan oleh beliau bahwa guru ibarat
petani, apakah selama ini saya sudah seperti itu?. Ternyata pengetahuan saya
selama ini tentang pendidikan tidak sesuai dengan tujuan dan filosofi bapak
pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara. Satu hal yang paling mendasar bahwa
pendidikan harus memanusiakan manusia, sehingga murid dapat mencapai kodrat
alam sesuai dengan keinginan mereka.
Untuk menjadi sosok guru yang sesuai dengan filosofi Ki
Hajar Dewantara memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, pembelajaran
yang berpihak pada murid, menghamba pada murid, yang dilakukan guru semua untuk
murid dan murid. Apalagi selama ini selama ini pola pikir sudah keliru jadi
untuk mengubahnya pasti ada tantangan perlu proses dan di dalam proses
membutuhkan waktu. Kuncinya adalah melakukan perubahan di diri sendiri. Untuk
mengatasi tantangan tersebut di atas maka salah satu cara yang bisa dilakukan
untuk menjadi sosok guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara salah
satunya adalah terlibat langsung dalam program pendidikan guru penggerak.
Sebagai guru baru pindahan di UPTD SMP Negeri 1 Sampang,
yang mendaftar program pendidikan guru penggerak kemudian lolos dan harus
mengikuti pendidikan selama kurang lebih 9 bulan Selama pelaksanaan program
pendidikan guru penggerak ini, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai
guru dengan kata lain tidak mengganggu jadwal mengajar, awalnya menjadi beban
pikiran untuk saya pribadi. Keluar
keringat dingin saat ada pertanyaan oleh rekan sejawat “apa yang diberikan pada sekolah dengan ikut
pendidikan guru penggerak”, saat itu tidak ada bekal sama sekali, mau jawab apa
yang enak dan membangun sebuah pemahaman tentang program guru penggerak ini.
Yang ada dalam pikiran saya adalah saya bisa mengikuti kegiatan PGP ini dengan
baik dan ada hal baik atau perubahan yang lebih baik dan dilakukan dengan
istiqomah yang bisa di ikuti oleh rekan sejawat.
TANTANGAN = REFLEKSI
Dalam kegiatan PGP ini, ada agenda rutin, seminggu sebelum
lokakarya yaitu Pendampingan Individu (PI). Kegiatan PI ini merupakan kunjungan
pengajar praktik ke sekolah tempat CGP mengajar. Bersyukur saya mendapatkan
pengajar praktik pak Saiful, beliau guru SMAN 1 Sampang. Pak Saiful adalah
pribadi yang cerdas, sabar, baik (banget malah) dan sangat pengertian. Pak
Saiful tidak pernah memaksakan jadwal pendampingan. Beliau senantiasa memberi
kesempatan ke saya untuk bermusyawarah dengan CGP yang satu sekolah (Pak Yas
dan Bu Wahidah) agar jadwal pendampingan bisa dilakukan pada hari yang sama.
Bersyukur hingga saat ini selama pendampingan selalu bisa dilaksanakan dengan
jadwal yang sama. Pendampingan pertama
berjalan dengan baik, masing-masing
PP sudah melakukan komunikasi dengan CGP. Pak Syaiful menanyakan
bagaimana perasaan saya selama melaksanakan kegiatan CGP, adakah kesulitan atau
adakah kendala selama kegiatan berlangsung, perubahan apa atau hal baik apa
yang sudah lakukan setelah mengikuti PGP ini dengan kata lain pak Saiful benar
– benar datang untuk mendengarkan “cerita/curhat” dari seorang CGP terkait apa
yang sudah di alami, Ada pengalaman yang tidak akan saya lupakan pada saat
pendampingan.
Sedangkan
tantangan terberat selama proses kegiatan CGP, saya kesulitan menemukan ide baru
untuk sebuah perubahan yang bisa dilakukan di sekolah. Ide yang saya miliki
sepertinya sudah ada, sudah berjalan dan diterapkan di sekolah. Saya juga bukan
guru yang berprestasi, bukan guru yang istimewa, saya guru berasal dari desa
yang ingin belajar. Saya lebih banyak diam dan kondisi seperti ini membuat saya
tidak percaya diri. saya terpasung dengan keadaan yang demikian. Beruntung
sekali saya memiliki pengajar praktik dan teman CGP yang sangat support dan
mengerti kondisi saya. Saya diberi masukan membuat saya makin bersemangat untuk
menggali lebih dalam tentang hal baik apa yang bisa saya lakukan dan bisa
dijadikan teladan atau contoh bagi rekan sejawat.
Tantangan lain yaitu saat melakukan aksi
nyata lalu merefleksikan kegiatan apa
saja yang sudah saya lakukan. Berangkat dari rasa tidak percaya diri,
ragu-ragu dan khawatir salah, akhirnya bisa menyelesaikan modul 1.1. Untuk
menyelesaikan aksi nyata modul 1.1. diperlukan semangat yang tinggi khususnya dalam
merencanakan dan menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Salah satu pemikiran
Ki Hajar Dewantara, yaitu “menghamba pada anak”, membuat saya untuk berpikir
lebih dalam bagaimana cara agar selalu mengerahkan kemampuan saya untuk
memberikan hal terbaik baik murid. Tidak ada kata malas untuk menyediakan
fasilitas, menguras ide untuk berkreativitas. Inti dari pendidikan yang
dicetuskan oleh beliau adalah memerdekakan anak dalam hal pembelajaran.
Maksudnya di sini adalah, sebagai guru kita memfasilitasi murid kita dalam
memberikan pendidikan dan pengajaran yang berpihak pada mereka dengan tujuan
agar murid menjadi lebih bebas dalam mengeksplorasi bakat dan minat mereka
sendiri sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
Hal
ini merupakan hal baru bagi saya, walau begitu saya tetap bersemangat dan
senang sekali dalam menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Murid-murid juga
turut senang dan bersemangat, hal ini terlihat dari wajah-wajah murid saya
ketika pembelajaran saya berlangsung di kelas. Dalam proses menerapkan
pemikiran Ki Hajar Dewantara di kelas, saya merasa sudah terdapat banyak
perubahan kecil yang saya lakukan yang berkaitan pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Hal yang saya terapkan juga mendapatkan umpan balik yang positif baik murid
saya maupun rekan kerja di lingkungan sekolah sehingga saya semakin bersemangat
untuk terus melakukan perubahan yang lebih baik dan bermakna. .
Selalu
bersyukur kepada Allah SWT, dengan penuh perjuangan akhirnya saya juga bisa menyelesaikan tantangan
modul 1.2. Perasaan sangat bahagia dan terharu, karena setahap demi setahap
mampu melewati kegiatan PGP ini. Oleh karena itu saya berpikir, bahwa proses
menguatkan nilai-nilai dan peran sebagai Guru Penggerak perlu juga diteruskan
dan ditularkan kepada rekan kerja, rekan sejawat, bahkan kepada anggota
komunitas yang saya ikuti sekaligus melakukan aksi nyata di modul 1.2. karena
berdampak sangat luar biasa bagi murid juga guru pada khususnya untuk
menciptakan karakter profil pelajar Pancasila.
Dan
merupakan sebuah tantangan juga saat saya diminta untuk merefleksikan kegiatan
pembelajaran modul 1.2 tentang nilai-nilai dan peran guru penggerak ini. Ketika
awal mempelajari alur MERDEKA modul 1.2 pada tanggal 12 September 2022 tentang
Nilai-nilai dan peran Guru Penggerak. Ternyata materi di modul 1.2 ini lebih
banyak dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mempelajarinya di bandingkan
modul 1.1. Setelah mempelajari materi dan berdiskusi di alur eksplorasi konsep,
saya dan teman-teman melanjutkan kegiatan diskusi di ruang kolaborasi. Pada
pertemuan ini kami dibagi menjadi 2 kelompok kecil. Di dalam kelompok kami
diminta membuat karya berisi gambaran singkat yang berbasis kekuatan nilai GP
kemudian merancang satu kegiatan yang sesuai dengan satu peran GP yang di
pilih. Setelah diskusi kelompok
kecil, kami di ingatkan oleh ibu Yuliana selaku fasilitator untuk melanjutkan
dengan agenda presentasi (Rukol sesi 2) tepatnya pada hari Sabtu, 17 September
2022 mulai dari Pukul : 15.45 - 18.00.
Kegiatan berjalan lancar dan seperti biasa di akhiri dengan kegiatan refleksi
yang di pimpin oleh ibu Yuliana. Kegiatan modul 1.2 ini di akhiri dengan kegiatan
diskusi virtual di ruang elaborasi pemahaman bersama instruktur nasional yaitu
ibu Nur Hanifah. Pemaparan materi yang disampaikan begitu sangat baik dan jelas
serta mudah di mengerti.
Jujur,
setelah mempelajari modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, saya
sadar bahwa sebenarnya nilai guru penggerak sudah dimiliki namun tidak
diterapkan secara maksimal. Setelah masuk dalam kegiatan PGP ini saya merasakan
sebuah pergerakan dalam hati, saya mulai tergerak untuk melakukan perubahan
nyata pada diri saya pribadi, saya ingin memperbaiki hal-hal yang baik selama
menjadi guru, saya merasa jauh dari kata ideal sebagai seorang guru. Oleh
karena itu saya semakin bersemangat untuk menerapkan dan berusaha mengembangkan
kompetensi saya sebagai guru dengan cara mengikuti pelatihan, seminar secara
mandiri tanpa diperintah, melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan
menerapkan model dan media pembelajaran yang inovatif, berkolaborasi baik dengan murid, rekan sejawat maupun
dengan kepala sekolah juga lingkungan masyarakat, menjadi coach bagi guru lain
jika ada yang kesulitan dalam hal pemanfaatan aplikasi yang mendukung
pembelajaran serta aktif dalam komunitas praktisi dengan mengadakan pertemuan
secara rutin.
I LOVE “CANVA”
Untuk menggapai harapan tentu ada hal yang membuat kita bisa
mengambil hikmah dari semua yang sudah kita jalani termasuk kegiatan PGP yang di
ikuti saat ini. Banyak hal luar biasa yang saya dapatkan dari kegiatan PGP.
Khususnya materi yang terdapat dalam modul-modul yang makin kesini modulnya
makin asyik. Terkait tugas yang harus dikumpulkan biasanya. Misal tugasnya
berbunyi “Buatlah satu karya (karikatur, info grafis, video pendek, komik,
lagu, puisi, dll) untuk menggambarkan pemikiran filosofis KHD sesuai dengan
pengetahuan dan pengalaman baru yang Anda per oleh”. Nah....perintah tugas
seperti ini jujur saja, membuat saya takut, pusing, bingung, gemetar juga iya,
karena memang tidak bisa membuat karya yang disebutkan di atas. Jadi saya
memakai cara cepat yaitu mengarahkan murid untuk membuat atau mengedit tugas
menjadi video, karikatur, info grafis dan teman-temannya. Beres tugas....Namun
di sisi hati yang lain, hati nurani berbicara “masak iya sampai 9 bulan ke
depan jika ada tugas mau mengandalkan kemampuan murid?”. Jiwa kepo saya
meronta, saya menelepon bu Yeri karena beliau ahli soal edit mengedit. Saya
mengadakan kesepakatan dengan bu Yeri. Niat telah kuat dan tekat sudah bulat,
saya harus bisa membuat dan mengerjakan tugas sendiri. Saya tertarik belajar
aplikasi Canva. Butuh waktu satu jam untuk belajar Canva. Masih jelas dalam
ingatan saat itu hari Kamis tanggal 22 September 2022, saya berangkat dari
rumah diantar suami jam 19.00 WIB jam 20.00 WIB saya pulang. Tiba di rumah,
saya buka laptop belajar buat tugas dengan aplikasi Canva hingga tidak terasa
jam menunjukkan jam 02.00 WIB dini hari. Saking sukanya pada aplikasi Canva ini
saya membuat status di WA dengan kata “I LOVE CANVA”. Alhamdulillah, sekarang
kalo ada tugas maka Canva menjadi andalan. Selain mengetahui bagaimana
mengoperasikan aplikasi Canva (walau masih sangat sederhana), saya juga sudah
bisa membuat info grafis, membuat video pendek sekaligus mengunggahnya di
youtube, masya Allah, bahagia dan senanng rasanya., ada beberapa momen yang sangat berkesan dan bermakna.
Momen yang sangat berkesan dan bermakna bagi saya, saat
melakukan praktik penerapan segitiga restitusi. Bermain peran dengan murid di shooting
dan di upload di youtube. Hal ini pengalaman pertama walau hanya beberapa menit tapi melalui take
yang beulang-ulang. Tidak mudah membangun sebuah chemistery sehingga nampak
natural. Membuat keyakinan kelas bersama murid yang merupakan pengalaman baru
buat mereka, awalnya susah memberi pemahaman tentang perbedaan peraturan kelas
dengan keyakinan kelas, namun berkat kerja keras, kerja sama dan usaha para
murid, akhirnya pembuatan keyakinan kelas berjalan lancar sesuai rencana dan
hasilnya dari keyakinan kelas sudah terpampang rapi di mading kelas. Begitu
pula saat mengadakan seminar tentang budaya positif yang bisa diterapkan di
sekolah. Kebetulan saya mengadakan seminar pada hari Senin, tanggal 14 November
2022 di komunitas MGMP PPKn yang dilaksanakan di UPTD SMPN 3 Sampang. Sebuah
penghargaan yang luar biasa diberi kesempatan untuk memaparkan salah satu
materi di modul guru penggerak terkait budaya positif di depan para guru
senior, apalagi di shooting. Materi
seminar yang saya sampaikan mendapat respon yang luar biasa, karena merupakan ilmu pengetahuan baru yang
tidak pernah di dapat sehingga teman – teman MGMP sangat antusias mendengar
paparan materi ini.
Selama ini (termasuk saya) teman-teman beranggapan bahwa
disiplin itu erat kaitannya dengan hukuman, padahal itu merupakan anggapan yang
keliru. Juga saat saya memaparkan materi tentang “keyakinan kelas”, teman-teman
sangat tertarik dan sangat bersemangat sekali. Andai tidak ada batasan waktu mungkin
seminar bisa sampai 3 jam. Karena materi ini benar – benar menarik dan bisa
dijadikan sebuah kebiasaan dan budaya positif yang bisa diterapkan di sekolah
masing-masing. Semangat itu terlihat karena dari awal hingga akhir kegiatan
seminar, tidak ada satupun yang beranjak meninggalkan ruangan keculi ijin ke
belakang.
Yang terakhir adalah momen kami para CGP melakukan praktik
coaching. Kami bergantian berperan baik sebagai pengamat, Coach maupun sebagai
Coaching. Sungguh tidak mudah, take nya dilakukan secara berulang, karena
terkadang pembahasan terlalu melebar dan keluar dari materi bahkan tiba-tiba
diam, blank dan bingung mau ngomong apa setelah ini, tertawalah kami( seru
full), kami melakukan praktik coaching ini selama 2 hari. dihari pertama dilakukan
di TKIT Nurul Hidayah sedangkan hari kedua dilakukan di UPTD SMPN 1 Sampang. Sedangkan
hal lucu yang pernah saya alami adalah saat mengikuti elaborasi melalui g-meet
saya terburu-buru akhirnya memakai jilbab putri bungsu saya “Syahdu”, tanpa di
duga Syahdu masuk ruangan lalu menarik jilbab yang saya pakai, Syahdu said
:”mana jilbab adik?” auto panik, akhirnya kamera saya off kan berganti jilbab
seadanya. Pengalaman seperti ini tidak akan terulang dan sangat mahal tidak
bisa dibeli dengan uang
MENGUKIR
HARAPAN BERSAMA GURU PENGGERAK
Setelah melewati rangkaian kegiatan PGP hingga saat ini,
besar harapan saya, para CGP bisa menjadi teladan dan transformasi ekosistem
pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila yang Beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mandiri, Gotong royong, Kritis, Kreatif,
dan Berkebhinekaan Global kemudian dalam pelaksanaannya CGP tetap berpijak pada
5 (lima) nilai, yakni mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif, dan
berpihak pada murid.
Setelah mengikuti kegiatan PGP selama kurang
lebih 4 bulan, telah membuka mindset saya, yang awalnya saya merasa takut tidak
bisa mengikuti PGP dengan baik karena keterbatasan keterampilan IT juga sudah
menyiapkan mental tidak akan diterima, bahkan sempat menilai tim penguji
mungkin salah menerima saya sebagai salah satu calon guru penggerak, seharusnya
bukan saya dan masih banyak yang lain yang lebih baik dari saya. Ternyata
semakin kesini, saya semakin menyadari bahwa saya tidak salah dan saya sudah
berada di tempat yang TEPAT.
Program Guru Penggerak ini membawa perubahan dan dampak yang
sangat luar biasa bagi transformasi pendidikan terutama untuk saya pribadi.
Salah satunya adalah mempunyai semangat untuk melakukan perubahan dari diri
sendiri sehingga bisa memotivasi dan menginspirasi terutama bagi murid saya dan
bisa membangun komunikasi yang positif dan efektif dengan seluruh warga sekolah
khususnya dengan stakeholder yang ada di sekolah dalam hal dukungan terhadap
program yang akan dilakukan selama proses PGP berjalan atau bahkan selesai. Semoga
saya bisa melakukan perubahan walau kecil namun bermakna dan istiqomah.
Program Pendidikan
Guru Penggerak ini menurut saya pribadi
sangat bermanfaat, bukan karena di iming-imingi bisa menjadi kepala sekolah
bahkan menjadi seorang pengawas akan tetapi materi yang ada dalam Program
Pendidikan Guru Penggerak ini sangat luar biasa. Tidak pernah saya dapatkan di
bangku kuliah bahkan di seminar atau pelatihan dan atau workshop yang pernah
saya ikuti. Selain materi yang luar biasa, komunikasi antar calon guru
penggerak sangat mendalam, menumbuhkan rasa persaudaraan yang erat, dan bila
semua guru se Indonesia dari tingkat pendidikan dasar sampai menengah
melaksanakan semua ilmu yang ada di Pelatihan Guru Penggerak maka saya yakin
Pendidikan Indonesia akan sangat maju. Karena jika lulus seleksi akan banyak
manfaat yang diperoleh di antaranya bisa mengembangkan diri dan guru lain
dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri, bisa merencanakan,
menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada
murid dengan melibatkan orang tua, serta bisa mengembangkan dan memimpin upaya
mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan
komunitas di sekitar sekolah. Akhir cerita, selama mengikuti PGP ini saya
diarahkan untuk menjadi pribadi yang mahir bersosialisasi tanpa menunjukkan
keakuanku, lebih menghargai pendapat orang lain, berdiskusi untuk mencari
solusi terbaik bukan ajang untuk menjatuhkan satu sama lain.
BAGIAN
PENUTUP
Pasangan bapak Sumbri Rasjid
berprofesi sebagai guru dan ibu Siti Kiptiyah sebagai Ibu Rumah Tangga dan sebagai
penjahit, melahirkan seorang putri pada tanggal 18 Januari 1980 yang begitu
manis yang diberi nama Arwani Rahmawati. Arwani Rahmawati merupakan anak ke dua
dari enam bersaudara dan saat ini sudah menikah dengan R. Chandra Wijayanto,
mempunyai 3 buah hati (mbak Putri, mas Azzam, dek Syahdu). Arwani yang
mempunyai hobby membaca dan memasak dan saat ini beralamatkan di Perumahan
Barisan Indah Blok AC. No. 16 Kec. Sampang Kab. Sampang. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya adalah antara lain: S-1
pertama, Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Pemasaran di Universitas Trunojoyo
Madura (UTM), S-1 kedua, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Jurusan
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), di STKIP PGRI Sampang. Studi
lanjut S-2 pada Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana di
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Komentar
Posting Komentar